Saat Terakhir Bersama Ibu

Pagi hari tanggal 02 Juni, ibu masih ke puskesmas sama mbak yang biasa merawat ayah untuk cek kesehatan dan ambil obat-obatan untuk persediaan satu bulan.

Malamnya, beliau sesak napas sampai tidak bisa berbaring. Saya aya dan mbak yang mengurus ayah berinisiatif mengajak ke IGD RS Cikini. Namun sampai di sana ternyata IGD RS Cikini penuh dengan para pasien Covid 19. Kami langsung pindah ke RS Kramat 128 dan ibu dirawat di sana.

Berdasarkan pemeriksaan, beliau harus langsung dimasukkan ke dalam ruang Isolasi. Berdasarkan diagnosa dan foto rontgen, infeksi paru-paru yang diduga akibat bakteri atau virus. Meskipun hasil rapid test tidak menunjukkan status reaktif, namun aktivitas sel darah putih jauh di atas normal dan kandungan oksigen dalam darah sangat kurang.

Keesokan harinya, tanggal 03 Juni, saya belanja pampers dan lain sebagainya untuk keperluan di ruang isolasi. Saya mau memberikan semua barang yang telah saya beli tersebut ke suster yang bertugas, tiba-tiba ibu dokter jaga memanggil saya dan menjelaskan bahwa jam 7 pagi tadi ibu saya sudah tiada.

Ibu tadinya menolak untuk ke rumah sakit namun akhirnya bersedia. Saya sampai bujuk sambil nangis bilang “mama, saya masih ingin belajar”. Ibu jawab dengan lembut “besok kita belajar ya”.

itulah kata-kata terakhir yang saya dengar. Ternyata pelajarannya lebih besar daripada sekedar pelajaran bahasa asing. Memang, beberapa bulan terakhir ini saya masih berusaha belajar Bahasa Spanyol sama ibu, terutama bagian advance nya. Namun sayangnya tidak bisa dilanjutkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *