Mengenang Ibu di Hari Guru

Meskipun Hari Guru sudah beberapa hari berlalu, saya tetap ingin menuliskan tulisan ini untuk mengenang sosok seorang guru yang paling berkesan dalam hidup saya yaitu ibu saya sendiri. Beliau lahir di Jogjakarta dan hijrah ke Jakarta saat masih berusia 5 tahun. Namun, sebuah kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dan merenggut ayah beliau. Saat di Jakarta, nenek mencari nafkah dengan membuka sekolah jahit di rumah. Ibu mulai menyukai bahasa Spanyol dari majalah-majalah mode milik nenek.

Ibu sudah tertarik pada bahasa-bahasa asing sejak duduk di bangku SMP. Saat kuliah di IKIP (sekarang UNJ), beliau mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sebuah kedutaan besar negara Amerika Selatan yang berbahasa Spanyol. Di sana, beliau mendapat kesempatan untuk mempelajari bahasa Spanyol dengan seorang instruktur yang sangat baik. Sehingga, dalam waktu yang cukup singkat, yaitu tiga bulan.

Tahun 1969 hingga 1971, beliau mendapatkan kesempatan kuliah bahasa di Grenenoble Prancis. Pengalaman tersebut membuat kemampuan bahasa asing beliau maju pesat. Selain kuliah di Grenenoble, Prancis, beliau juga mendapat kesempatan bekerja selama musim panas di sebuah kastil di Jerman. Pengalaman itu membuat beliau mampu berkomunikasi dalam bahasa Jerman meskipun tidak sefasih bahasa Prancis dan Spanyol.

Tahun 1973, Ibu mulai mengajar sebagai dosen di IKIP Bahasa Prancis dan CCF atau Pusat Kebudayaan Prancis yang saat itu masih terletak di Jalan Salemba No. 25 Jakarta Pusat. Selain itu, beliau juga mengajar bahasa Spanyol secara privat.

Sesudah pensiun dari IKIP, beliau lebih banyak mengajar privat bahasa Prancis dan Spanyol di rumah. Saya dan ibu pun pernah membuka kelas bahasa Spanyol gratis di rumah pada tahun 2004 dan 2005. Hingga kini, alhamdulillah, saya masih bersahabat dengan teman-teman yang pernah ikut kelas tersebut di media sosial.

Sayangnya, kegiatan mengajar yang ibu lakukan terhenti saat salah satu adik saya mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seumur hidup. Ibu saat itu mencurahkan seluruh perhatian dan tenaga beliau merawat adik saya, sehingga beliau tidak mengajar lagi.

Sesudah adik meninggal tahun 2015, ibu tidak mengajar lagi sampai akhir hayatnya.

Mohon doa terbaik untuk beliau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *